Belajar Wara' dari Grand Shaikh Al-Azhar

Ingin mencari sosok panutan ulama itu terlebih dahulu lihat bagaimana caranya mencari rezeki. Karena jika rezekinya halal, maka makan dan minumnya akan halal. Jika makan dan minumnya halal, maka darah yang mengalir di dalam tubuh dan daging yang melekat pada tulang akan menjadi baik dan berkah. Namun, jika rezeki yang didapat haram, maka segalanya akan menjadi tidak baik.


Dalam sebuah hadits, Nabi saw. pernah bersabda, "Ada seseorang melakukan perjalanan jauh (untuk beribadah, seperti haji, silaturahim, dll) dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku", padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan."


Grand Shaikh Al-Azhar Mesir adalah sosok yang patut dijadikan teladan. Meskipun para pendengki dari kalangan politisi sedang mencoba mengusik kedudukan beliau. Ini semua adalah cobaan bagi beliau untuk naik ke kelas selanjutnya. Cerita tentang beliau tidak mengambil gaji atau mengembalikan gaji bulanan beliau ke negara merupakan cerita yang sudah sangat masyhur. Cerita tentang beliau yang tinggal di sebuah flat kontrakan sederhana juga sudah masyhur. Mungkin dunia akan tercengang, betapa seorang Grand Shaikh Al-Azhar, orang nomor satu di Lembaga Keagaaman terbesar di dunia, rumahnya adalah kontrakan sederhana. Padahal, banyak ulama yang sering show di televisi dengan tinggal di villa mewah dan mengendarai mobil mewah. Inilah bedanya ulama Azhar dengan lainnya.


Ahmad Abdul Wasi' bercerita dalam facebooknya: "Saat Grand Shaikh Azhar saat ini Prof.DR. Shaikh Ahmad Thayeb masih menjabat sebagai Rektor Al-Azhar, paman saya datang ke kuliah untuk bertemu dengan beliau. Setelah sampai di kuliah, para pegawai mengatakan bahwa beliau sedang tidak ada di tempat. Paman saya marah, karena dia melihat mobil beliau terparkir di halaman kuliah. Diapun berkata kepada para pegawai itu, "Apakah kalian mau membohongi saya? Ini mobil beliau ada di depan!." Mereka menjawab, "Iya, beliau sedang keluar sebentar untuk membeli keperluan beliau." Tidak lama kemudian, ada sebuah taxi masuk area kuliah dan tampak beliau turun dari dalam taxi. Setelah itu paman saya langsung menyapa beliau dan bertanya, "Kemana saja Anda wahai syekh? Mengapa tidak membawa mobil?" Beliau menjawab, "Saya pergi keluar untuk membeli keperluan pribadi. Bensin yang ada di dalam mobil saya itu difasilitiasi oleh negara untuk saya gunakan menunaikan tugas negara. Jadi, tidak boleh jika saya menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan pribadi seperti ini."


Subhanallah, di era modern seperti ini masih ada sosok seperti Umar bin Abdul Aziz yang dijuluki sebagai khalifah kelima umat Islam karena kewaraan dan keadilannya. Dalam sebuah kisah, ada seseorang menemui beliau di kantornya. Sebelum banyak ngobrol, beliau bertanya kepada, "Mau bicara untuk kepentingan negara, atau pribadi?" Saat orang tersebut menjawab, "Pribadi", beliau langsung mematikan lampu, karena lampu itu adalah fasilitas negara.

Dari Tulisan sanrtri Al Azhar-Mesir: Ust Zamzam Saleh

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Wara' dari Grand Shaikh Al-Azhar"